Thursday, September 19, 2013

Edelweis

“Hati dan rasa sayang. Tidak ada yang tidak masuk akal ketika gumpalan daging di balik rusukmu itu  sudah merasakan cinta.”

Aku sudah lupa kapan terakhir kali meneguk sejuk embun di pagi hari, merasakan sapaan hangat mentari dikulit wajahku. Duduk dan menghabiskan waktu dengan buku cerita lusuh yang ku ambil diam-diam diperpustakaan sekolah, sembari menunggumu datang dengan jagung sangrai yang sudah kau siapkan di toples kaca.

Tiga tahun lalu, padang luas dengan hamparan bunga Edelweis menjadi tempat rutin yang kita datangi di setiap sore akhir pekan. Menjadi karnaval dengan buaian angin semilir dan pemandangan yang memanjakan mata, Edelweis yang tersusun rapi terhampar dan menjorok sampai ke ujung tebing. Menyajikan beberapa bukit lain dan lembah yang berwarna hijau sedikit kekuningan, diterpa semburat emas dari matahari yang mulai malas berbagi sinar.

Disaat senja mulai mengubah langit biru menjadi jingga bercampur hitam, kau suka berlari dan memainkan ujung rok yang kau pakai, membiarkan angin menghempas rambutmu dan tergerai lembut mengikuti iramanya. Mencoba menangkapi dandelion yang beterbangan sambil tertawa lepas dengan mata yang tak henti-hentinya menatap teduh kearahku. Aku hanya diam dan duduk di sisi lain padang yang luas itu, memandangmu dan membiarkan semua keindahan ini terekam tanpa sepersekian detik pun terlewatkan.


Setelah lelah berlari dan tertawa lepas, kau akan duduk sambil mengusap-usap lembut Edelweis, lalu diam dan berpaling kearahku sambil berucap “Aku suka Edelweis, ia melambangkan keabadian. Keabadian akan rasa sayang.” Lalu kau kembali mengulas senyum. “Itu Cuma mitos,” ucapku sambil menatap lentik matamu. Kau diam, dan mengalihkan pandangan, memandang langit yang semakin menghitam. “Mitos dapat mengalahkan logika dan keyakinan ketika sudah bersanding dengan ini,” kau mendekatkan telunjukmu kedadaku, “Hati dan rasa sayang. Tidak ada yang tidak masuk akal ketika gumpalan daging di balik rusukmu itu  sudah merasakan cinta.”

Kau berdiri dan mulai berjalan menjauh, lalu berbalik dan tersenyum. “Mari kita pulang, hari semakin gelap.” Di iringi sepoi malam yang mulai dingin, kau dan aku beranjak meninggalkan padang tempat bunga abadi.


Tiga tahun berlalu, aku duduk diatas rerumputan yang masih basah oleh embun. Ditanganku sudah ada seikat bunga, bunga yang selalu menjadi favoritmu, bunga yang selalu kau percaya sebagai tanda keabadian akan rasa sayang. Hari ini aku membawakannya untukmu, aku berharap bisa kembali menikmati senyum dan binar mata lentikmu. “Kau benar tentang hari itu, tentang mitos yang bersanding dengan rasa sayang. Mitos dapat mengalahkan logika dan keyakinan ketika rasa cinta sudah bersanding dengannya. Bahkan untuk sebuah keabadian yang mustahil. Sayangnya aku terlambat untuk menyampaikannya.” Aku bertumpu pada lututku, menatap nisan yang bertuliskan namamu. “Kuharap bunga ini bisa menemanimu dalam keabadian, Aku mencintai mu.”
Edelweis


Share:

0 komentar: