Friday, April 11, 2014

Kata tanpa Kata

"Ketika apa yang ingin ku ucapkan beku di ujung lidah, maka akan kutuliskan... mungkin tangan bisa lebih terbuka untuk menyampaikan apa yang ingin ku ucapkan"

Ada kalanya kata-kata yang kita ucapkan tak mampu sampai pada-dia-yang sedang berusaha kau raih, karena terkadang apa yang ingin kita sampaikan lebih dari apa yang ingin kita ucapkan. Seperti bagaimana bisa satu kata "rindu" mampu mewakili semua rasa yang setiap inchi menyelimutiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seperti bagaimana bisa kata "sayang" mampu mewakili apa yang sebenarnya kurasakan ketika berada didekatmu dan membuatku tersenyum dengan sangat lepas. Seperti bagaimana kata "cinta" mampu mewakili perasaan takut yang sangat untuk berada pada jarak yang jauh denganmu.  



Dan ku akui, sekedar kata tak mampu mewakili itu semua. Mereka-kata- hanya mewakili sedikit dari apa yang sebenarnya kurasakan. Jadi bisa kau bayangkan, ketika bahagia menghampirimu dengan satu kata itu, satu kata yang mewakili sedikit dari apa yang kurasakan, bagaimana jika apa yang kurasakan secara keseluruhan dapat kau rasakan, lebih dari dekap terhangat sekalipun. Ahhh. akupun tak mampu untuk membayangkannya, ketika rengkuh itu menyatukan kita berdua. Dan sekali lagi aku tak mampu mengeluarkannya hanya lewat kata.

Ketika apa yang ingin ku ucapkan beku di ujung lidah, maka akan kutuliskan... mungkin tangan bisa lebih terbuka untuk menyampaikan apa yang ingin ku ucapkan. Tentang bagaimana "rindu" menjadi kata yang menyenangkan, kata "sayang" bisa menjadi sangat hangat, dan dirimu menjadi sebuah kata yang tak dapat dijelaskan oleh satu katapun, kata terindah sekalipun. Karena tak ada yang bisa menjelaskan sebuah keindahannya yang sesungguhnya, dengan kata atau kalimat terindahpun. Kamu.
Share:

0 komentar: