Yakin kamu orang Indonesia?

Table of Contents
Sudah beberapa hari saya ikut berpartisipasi sebagai volunteer pada kegiatan kebudayaan yang diadakan di Adelaide, salah satu kota di bagian selatan Australia yang dijuluki dengan kota festival. Mengikuti kegiatan tersebut membuat saya tersadar bahwa betapa saya seorang yang mengaku berbangsa Indonesia ternyata memiliki pengetahuan yang minim terhadap bangsa sendiri, terutama dalam hal seni dan budaya. Pengetahuan akan seni dan budaya tradisional yang selama ini saya rasa cukup, ternyata tidak lebih dari remah-remah roti dibandingkan apa yang saya temukan disini, di negeri orang, mirisnya, bukan di Indonesia.

The Rancakers di Adelaide

Dulunya saya dengan percaya diri mengatakan bahwa, seorang dengan latar belakang jurusan pendidikan fisika wajar jika tidak tahu seni dan budaya tradisional, itu adalah urusan mereka yang bergelut di bidang seni, bukan saya. Seni dan sains adalah hal yang sama sekali tidak beriringan, itulah yang dulu saya yakini. Namun, ketika masuk dan berpartisipasi di dalam kegiatan seni dan budaya sebagai volunteer, saya kemudian sadar bahwa pernyataan itu tidak lebih dari sekedar alat untuk melarikan diri dari “ketidakmauan” –bukan ketidakmampuan- saya untuk belajar. Dan hasilnya, saya merasa bahwa saya berada pada kondisi buta terhadap budaya dan tradisi saya sendiri, jangankan berbicara Indonesia, berbicara tentang budaya Bugis-Makassar yang merupakan tanah kelahiran saya saja, saya masih terbata untuk mendeskripsikannya.

Saya kemudian menyadari bahwa akademisi-akademisi terdahulu, para peneliti dan penemu pada abad-abad sebelumnya sama sekali tidak memecah belah seni dan sains. Justru mereka menjadi tokoh yang selain mampu memberi sumbangsih yang sangat luar biasa pada dunia sains, mereka juga adalah seniman yang handal. Sebagai contoh, Albert Einstein, tokoh scientist dibidang fisika penemu teori relativitas, selain jago dalam bidang fisika, Eisntein juga pandai dalam memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
The Rancakers 2

Bahkan dalam sebuah percakapan dengan teman yang mengambil mata kuliah Neuroscience, teori otak kanan dan otak kiri, yang banyak dijadikan landasan oleh orang-orang sebagai dasar bagi mereka dalam memutuskan apakah ingin fokus pada bidang sains atau seni, adalah hal yang tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kemutlakan. Justru keseimbangan antara keduanya itu perlu, walaupun tetap akan ada yang mendominasi. Dan menurut pandangan saya pribadi hal itu bisa didapatkan salah satunya dengan mengkolaborasikan antara seni dan sains.

“…kalian bisa menghancurkan sebuah bangsa, membunuh mereka yang ada di dalamnya, namun mereka akan kembali bangkit dan bangkit. Namun ketika kalian menghancurkan budaya mereka, menghancurkan sejarah mereka, maka mereka tidak punya apa-apa untuk kembali. Mereka akan hilang dengan sendirinya…”


Kalimat tersebut adalah sebuah kalimat yang muncul ketika menyaksikan film the monument man, sebuah film yang menceritakan tentang sekelompok tentara yang mengemban tugas untuk melindungi karya seni di perang dunia kedua agar tidak hancur dalam perang. Sebuah tugas yang aneh melihat situasi dan kondisi pada saat itu. Namun, film ini mengajarkan akan pentingnya sejarah dan budaya untuk kita lindungi, karena itulah yang membentuk siapa kita dan apa kita. Bangsa tanpa budaya bagaikan gundukan semen yang tak berbentuk, bisa saja ia kuat dan keras, namun tak sedikitpun bernilai.

Sebagai representasi dari warga Indonesia, sudahkah kita mengenal Indonesia kita? Jika jawabannya “tidak”, mari terus berbenah diri, menyeimbangkan antara dunia seni dan sains. Jika jawabannya “iya”, kembangkan dan bantulah mereka yang ingin mempelajari budaya bangsa mereka.



Awardee LPDP PK 51


Ainun Najib Alfatih




Post a Comment