Terjebak Syukur

Table of Contents

Basineng, pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal semburat jingga dari ufuk timur sudah mulai naik memenuhi tigaperempat langit. Kita sudah kembali duduk dibangku kecil depan rumah. Dengan setelan baju rapi yang baru saja disetrika subuh tadi. Kita sedang mengumpulkan asa dan rasa untuk kembali memulai dan menjalani hari.

Jalan masih sepi, dinginnya angin pagi yang semakin terasa bersamaan dengan laju motor yang semakin cepat menjadi sensasi yang setiap hari kita rasakan dalam perjalanan menuju tempat kita bekerja. Kita masih tak memulai pembicaraan pagi itu. Kita masih terjebak untuk mengingat mimpi apa yang telah kita alami selama tidur tadi. Kita adalah dua orang yang terjebak dalam kata syukur dan toxic dalam waktu yang bersamaan. Padanan kata yang menunjukkan dua kosakata lama dan kekinian. Terjebak dalam kalimat "Syukuri yang sedang kamu jalani, karena mungkin masih banyak orang di luar sana yang mau berada di posisimu, dan melakukan pekerjaanmu" serta kalimat "Jangan mau lama-lama kerja dikantor yang lingkungannya toxic, tidak bisa membuatmu berkembang." 

Kita bekerja. Lalu pulang, makan dan kembali tidur. Besoknya pun begitu. Hari-hari selanjutnya pun begitu.

Kita sedang berada dalam fase yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya Basineng. Fase dimana cita-cita dan mimpi yang dulu kita gembar gemborkan seakan menjauh dan mustahil untuk diraih kembali. fase dimana jalan yang dulu kita tapaki menjadi semakin asing dan mulai menghilang tertutupi alang-alang. 

Kita mungkin sedang diuji, agar bisa kembali menapaki jalan yang makin terjal. Agar kita bisa menjadi lebih kuat menghadapi apa yang nantinya akan kita hadapi ketika kembali ke jalur dimana mimpi kita sedang melaju bersamaan dengan bertambah kuatnya kita. Ataukah mungkin kita sebenarnya sudah berada dijalur tersebut, hanya saja kita tidak sadar, kita luput untuk menyadarinya.

Ataukan kita sedang terabaikan? frase ini kadang-kadang terbersit dalam pikirku, membuat ragu. Apakah kita benar-benar berusaha? Apakaha usaha kita betul memiliki arti? Atau ini hanya fase kosong yang tidak berarti apa-apa, selain kita melemah dan bertambah tua?

Katanya kita kuat. Bersedih dan mengadu bukanlah kita. Kita adalah sosok yang selalu bisa bahagia dengan hal-hal yang sederhana. Kita adalah sosk yang mengayomi. Tapi dalam pembicaraan terkahir kita, kita sempat tertawa kecut ketika bertanya, "Lalu ketika kita goyah, siapa yang akan ada dibelakang kita dan menjadi sandaran?" Aku tersenyum, dan berkata "Siapa lagi Basineng, cuma kita berdua yang ada disini." Kau lalu kembali tertawa, berbalik dan menghilang dibalik cermin.




Post a Comment